Posts Tagged ‘ILS

24
Sep
10

ILS

Salah satu cara aproach pesawat terbang untuk mendarat di sebuah bandara adalah dengan menggunakan ILS aproach. ILS aproach termasuk precision aproach,berbeda dengan NDB atau VOR aproach yang termasuk non-precision aproach. Yup,dari namanya mungkin anda sudah tau bahwa precision aproach dimaksudkan agar pesawat melakukan aproach secara presisi. ILS menggunakan gabungan sinyal radio,yang satu menyediakan lateral guidance (localizer) dan yang lain adalah vertical guidance (glide slope). Biasanya ILS equipment ini ditempatkan diluar dari runway dengan beberapa antena yang di transmit kan menggunakan 1 dari 40 channel antara 108.10Mhz sampai 111.95Mhz.

Prinsip kerja dari ILS adalah kombinasi antara localizer dan glide slope atau glide path. Localizer adalah yang membuat pesawat centerline dari runway. Sehingga pesawat tidak miring ke kiri atau ke kanan dari runway. Cara kerja dari localizer adalah perbedaan frequecy yang dimodulasi. Yang satu dimodulasikan 90Hz yang lainya dimodulasikan 150Hz. Localizer penerima yang ada di pesawat menangkap perbedaan itu maka dapat dideteksi apakah suatu pesawat condong ke kanan atau ke kiri. Sama hal nya dengan Glide slope atau Glide path. Bekerja pada kisaran frequency 329.15MHz sampai 335 MHz dapat mengetahui apakah pesawat terlalu rendah atau terlalu tinggi dari thrusthold. Kombinasi localizer dan glide slope inilah yang membuat pesawat dapat mendarat tepat di touch down zone (mengabaikan faktor wind,weather).

ILS mempunyai beberapa kategori,dilihat dari decision altitude dan runway visual range dibagi beberapa kategori:

  • Kategori I (Cat I): Instrument approach dan landing dengan decision height tidak kurang (rendah) dari 200feet diatas touchdown zone elevasi; visibility tidak kurang dari 800m; Rvr (runway visual range) tidak kurang dari 550m.
  • Kategori II (Cat II): Instrument approach dan landing dengan decision height lebih rendah dari 200feet diatas touchdown zone elevasi tetapi tidak lebih rendah dari 100feet; Rvr tidak kurang dari 300m.
  • Kategori III (Cat III) dibagi menjadi:

  1. Kategori III A: Instrument approach dan landing dengan decision height lebih rendah dari 100feet diatas touchdown zone elevasi; Rvr kurang dari 200m
  2. Kategori III B: Instrument approach dan landing dengan decision height lebih rendah dari 50feet diatas touchdown zone elevasi; Rvr kurang dari 200m tetapi tidak kurang dari 75m
  3. Kategori III C: Instrument approach dan landing dengan tanpa batasan rendahnya decision height dan batasan Rvr, kategori ini belum dipakai di negara manapun. Saat ini masih kategori III B yang terbaik,biasanya digunakan di airport Eropa atau US.

Advertisements
17
Jul
10

SID n STAR

SID (Standart Instrument Departure) dan STAR (Standart Instrument Arrival) adalah hal yang wajib dipelajari dalam instrument rating. Artinya kita harus mengikuti aturan dalam chart SID atau STAR pada saat kita mau “lepas dari bandara” maupun pada saat “mendekati” bandara. Untuk SID dan STAR tiap-tiap bandara adalah berbeda-beda,tergantung letak bandara,ketinggian,obstacle (penghalang) yang ada disekitar bandara.

Dalam STAR ada juga aturan dalam aproaching (mendekati) ke arah runway. Untuk Solo City (WARQ) terdapat 3 cara aproaching yaitu NDB (Non Directional Beacon) aproach, VOR (VHF Omni Range) aproach, dan ILS (Instrument Landing System) aproach. Tiap aproach menggunakan station yang berbeda pula. Untuk NDB aproach menggunakan NDB SO(sierra oscar), VOR aproach menggunakan VOR SLO (sierra lima oscar).

Untuk NDB dan VOR disebutkan bahwa aproaching menggunakan station NDB dan VOR adalah non-precision aproaching. Sedangkan untuk precision aproaching kita menggunakan ILS. Bandara Adi sumarmo termasuk bandara yang lengkap untuk latihan training instrument,karena disini terdapat NDB untuk latihan Holding NDB dan NDB aproach, VOR untuk holding dan aproach VOR juga dan tentu ILS. Tidak heran jika banyak Flying school dari Jakarta pindah ke solo.